Judul buku: Kota Pariaman, Dulu, Kini dan Masa Depan (Edisi Revisi)
Penulis : Bagindo Armaidi Tanjung, S.Sos., M.A
Penerbit : Pustaka
Artaz
ISBN : 978-634-000-00-0
Halaman : lx + 356
Harga : Rp
Dari segi
fisik (urban geography), Kota Pariaman termasuk "kota pantai"
yang tertua di antara deretan kota-kota di pantai barat Sumatera, seperti
Barus, Sibolga di utara, Pariaman, Tiku di tengah serta Painan, Indrapura dan
Airhaji di selatan. Sementara itu Padang adalah kota yang relatif lebih muda,
yang tumbuh lebih kemudian setelah zaman VOC abad ke-17, lebih kurang sezaman
dengan Painan atau Sibolga. Salah satu ciri kota pantai ialah bahwa eksitensinya
tidak pernah berdiri sendiri (atau kota mandiri), melainkan ditentukan oleh
peranannya sebagai entrepot -- kota pelabuhan yang berperan sebagai titik
simpul dari mata-rantai jalur perdagangan laut.
Dengan
kata lain, kelahiran dan pertumbuhan kota lebih ditentukan oleh faktor eskternal
ketimbang perkembangan dari dalam, mengingat fungsinya sebagai
"terminal" perantara bagi pedagang lewat jalur laut di satu pihak dan
sebagai jalan keluar (outlet) bagi penyaluran komoditi dari pedalaman di
lain pihak. Karena fungsi utama kota pantai adalah melayani jasa perdagangan
(regional dan jarak jauh) melalui kontrol terhadap akses simpul-simpul jalur
pedagangan laut, maka kota-kota pantai, dalam sejarah seringkali menjadi
persaingan dan perebutan kekuasaan antara kekuatan luar yang dominan dengan kekuatan
setempat. Kota Pariaman sekali waktu pernah menjadi outlet bagi jalur
perdagangan yang dikontrol Kerajaan Minangkabau di pedalaman, lalu kemudian di
bawah pengaruh Aceh, lalu VOC sebelum akhirnya berada di bawah kekuasaan kolonial
Hindia-Belanda sejak abad ke-19.
Kota-kota
di mana pun mestilah terdiri dari ruang-ruang (spaces) tempat di mana
kegiatan warga kota berlangsung, dan keduanya mempunyai bentuk sangat kompleks
dan selalu berubah-ubah. Melihat lebih dekat "wajah" kota dan isinya,
maka di situ kita akan menjumpai ruang-ruang alami dan buatan. Ruang alami
dalam konteks Kota Pariaman ialah kawasan pantai itu sendiri dan lingkungan
fisik, sungai-sungai dan dataran yang mengitarinya. Di masa lalu keadaannya
relatif belum terkontaminasi oleh ulah tangan manusia, namun belakangan makin
diserbu oleh kekuatan modernisasi yang seringkali berpotensi menghilangkan jati
diri kota. Bangunan-bagunan lama dirobohkan dan digantikan dengan bagunan-bangunan
baru, perkantoran atau fasilitas pasar. Bangunan- bangunan dan pekerjaan infrastruktur-infrastruktur
fasilitas kota membingkai perilaku manusia, dengan menawarkan peluang- peluang
di satu sisi, tetapi juga menciptakan kendala di lain sisi, antara lain
hilangnya ruang publik yang terbuka untuk umum. Jenis penggunaan ruang terbuka
umum ini berbeda dari yang pertama, yakni ruang alami, yang diberikan alam,
karena sifatnya yang terbuka, sehingga ruang ini memberikan lebih banyak
kebebasan untuk alternatif penggunaannya. Namun ketika persaingan komersial
yang makin ketat, ruang publik seringkali dicaplok oleh kekuatan pasar. Ruang
kota, terutama kawasan pusatnya, pada gilirannya dijadikan barang komoditas
untuk diperjual belikan untuk mendapatkan laba. Di sini kita berhadapan dengan
konflik tanah, tidak hanya sesama kaum, melainkan juga antara pemerintah dengan
warga kota.
Buku Armaidi
Tanjung ini, terlepas dari kekuatan dan kelemahannya, telah membuka jalan bagi
penulisan tentang sejarah Kota Pariaman. Ia tidak hanya berguna untuk
memperkenalkan dan memberikan apresiasi sejarah publik tentang kota ini, tetapi
tentunya juga dapat merangsang penyelidikan lebih lanjut oleh para ahli di masa
datang. Lebih-lebih lagi dengan dibangunnya bandara internasional Minangkabau
yang tak jauh letaknya dari Kota Pariaman, sekali lagi, ciri kota pantai yang
bergantung pada perkembangan eksternal, cepat atau lambat, akan membawa dampak bagi
perkembangan ke kota ini ke depan.
Apakah ia
akan memberi makna yang signifikan kepada perkembangan kota ini, atau
sebaliknya, maka sebagian bergantung pada kemampuan pengambil keputusan untuk memanfaatkan
simpul-simpul yang pernah diperankan oleh Kota Pariaman sebagai entrepot
di masa lalu, sebagian lain pada keterlibatan bersama dari warganya dengan
suatu "azam," yakni niat dan tekad bulat untuk berbuat sesuatu dengan
ikhtiar tidak mau kalah dari yang lain itu. Sesungguhnya azam inilah yang menjadi
salah satu motor penggerak utama dari kemajuan, termasuk, dalam hal ini, menanggulangi
permasalahan kota semisal masalah kebersihan kota.
