Breaking Posts

6/trending/recent
Type Here to Get Search Results !

WARISAN YANG TERCECER, Sejarah Dunia, Pengajaran Sejarah dan Kajian Sosial

Judul: WARISAN YANG TERCECER, Sejarah Dunia, Pengajaran Sejarah dan Kajian Sosial 
Penulis : Prof. Dr. Mestika Zed 
Editor : Armaidi Tanjung, S.Sos, M.A 
Penerbit : Pustaka Artaz
 Cetakan kedua : Juni 2021 
ISBN lengkap : 978-979-8833-40-3
 ISBN Jilid 3 : 978-979-8833-43-4 
Ukuran : 14,2 X 20,3 cm 
Halaman : xx + 402 
Harga : Rp 130.000,- 

 

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Begitu pepatah yang sudah diajarkan sejak bangku sekolah dasar. Bagi seorang akademisi, cendikiawan, tentu yang ditinggalkan adalah karya-karyanya tatkala telah menghembuskan nafas terakhirnya. Namun kenyataannya tidak semua akademisi yang mampu meninggalkan karyanya setelah tidak lagi berada di alam dunia ini.

Sosok Mestika Zed merupakan akademisi yang banyak meninggalkan karya-karya ilmiah. Baik berupa buku, tulisan, maupun pemikirannya yang hingga kini masih bisa dibaca banyak orang. Mestika Zed yang dikenal sosok dosen idealis yang banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan ilmiah, menghadiri dan menjadi narasumber  di berbagai seminar, pelatihan workshop, lokakarya dan penelitian, berskala lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya buku yang dihasilkan Mestika Zed. Tidak saja buku-buku bertemakan sejarah karena disiplin ilmunya bidang sejarah, akan tetapi juga buku  lainnya yang menjadi referensi banyak kalangan akademisi, baik mahasiswa maupun dosen di berbagai perguruan tinggi.

Meski banyak tampil di berbagai forum ilmiah, seminar, lokakarya, workshop, diskusi dan bedah buku, Mestika Zed selalu tampil dengan originalitas pemikirannnya. Hal itu menunjukkan keluasan pemikiran dan wawasan yang menjadi ciri khas Mestika Zed. Hal itu juga yang menjadi daya tarik banyak pihak melibatkannya di berbagai kegiatan ilmiah dan forum.

Buku ini jilid ketiga dari lima jilid yang merupakan kumpulan makalah Mestika Zed dalam berbagai kesempatan acara seminar, diskusi panel, lokakarya, workshop dan pelatihan. Jilid ketiga ini terdiri empat bab, masing-masing kajian sejarah dunia, kajian sejarah lain-lain, pengajaran sejarah dan kajian sosial.

 Asia Tenggara sebagai unit kajian regional tidak dipersoalkan lagi dan ia telah merupakan lapangan kajian yang layak dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Namun kalau di atas hamparan peta Asia Tenggara itu ditaruh cincin representasi dari “kajian Islam”, terlepas dari apa yang dimaksud dengan istilah itu maka di situ akan terlihat bahwa cincin “raksasa” itu tidak “pas” melingkari peta Asia Tenggara, kecuali hanya sebagian saja. (hal. 3).

Apakah layak untuk memberikan “label” Asia Tenggara untuk kajian Islam semacam itu, kalau cakupan spatial-nya hanya terbatas di kawasan tertentu saja, inilah yang diingatkan A.H. Johns sebagaimana dikutipkan di atas. Tetapi persoalannya, tentu saja, jauh lebih kompleks daripada sekedar kesenjangan dalam cakupan spatial yang dapat diliputinya ke atas kawasan “Asia Tenggara” itu.

Kini, setelah lebih dari dua dekade sejak A.H. Johns, melontarkan kritiknya, telah cukup banyak waktu berlalu, telah cukup banyak peristiwa terjadi dan telah lumayan bertambah pula tulisan-tulisan mengenai Islam di Asia Tenggara, termasuk di negeri berpenduduk minoritas Islam seperti Thailand dan Philipina. Tetapi apakah kajian sejarah Islam Asia Tenggara sudah lebih maju daripada apa yang dirisaukan oleh pakar dan pemerhati sejarah Islam Asia Tenggara yang cukup produkif itu?

Jawaban atas pertanyaan ini mungkin bisa dibantu dengan beberapa telaahan sejarah yang lebih kemudian, dan untuk sementara tampaknya masih sulit mendapatkan gambaran yang koheren tentang sejarah Islam Asia Tenggara di masa lampau dan di masa sekarang dan dengan demikian, juga tentang peran regional yang dimainkannya di kawasan itu pada masa lalu dan dewasa ini. Jika asumsi ini benar, pada tataran mana kajian sejarah Islam Asia Tenggara dapat dilihat sebagai suatu kemajuan yang berarti dan sebaliknya pada tataran mana pula dia masih menunjukkan beberapa kelemahan, sehingga masih perlu terus dibenahi? Selain itu, tentunya juga perlu dipertanyakan apakah ukuran yang harus digunakan untuk menetapkan suatu gambaran sejarah Islam Asia Tenggara yang relatif koheren atau “utuh”, sehingga tidak lagi terkesan compang-camping, fragmentaris, baik dilihat dari segi spatial maupun temporal, yaitu menurut urutan kronologisnya? (hal. 5).

Jika kajian historiografi sebagai salah satu cabang Ilmu Sejarah dapat didefinisikan sebagai kajian sejarah pengetahuan sejarah (sebagaimana yang ditulis), maka paling tidak, ada tiga bidang perhatian harus diarahkan secara seksama. Pertama adalah mengenai karya sejarah dan kedua mengenai sosio-biografi para penulisnya (sejarawan) dalam arti luas, sedang yang ketiga adalah mengenai konteks jiwa zaman (zietgeist) dan ikatan kebudayaan (cultuur-gebundenheid) yang melahirkan sejarawan dan karyanya. Yang pertama, berkenaan dengan kajian mengenai genre karya penulisan sejarah, dan ini dapat dilihat dalam pelbagai perspektif dan bidang garapan yang menjadi titik perhatiannya. (hal. 6).

Masyarakat Islam di Asia Tenggara sejak semula berkembang secara terserak-serak dan terpisah satu sama lain tanpa memiliki tradisi kekuasaan dan pusat peradaban yang langgeng, yang khas Asia Tenggara. Ini pada gilirannya menyulitkan rekonstruksi sejarahnya yang koheren, baik dari segi struktur temporal-nya (atau sekuensi waktunya), maupun dari segi struktur spatial dan jangkauan dimensi sejarah Islam yang menjadi lahan garapannya. Dapat dilihat, bahwa selama beberapa abad, setidaknya sejak awal kedatangan dan kemudian berkembangnya Islam (Islamisasi) di Asia Tenggara pada abad ke-13 sampai munculnya kolonialisme Barat sampai abad ke-19, fenomena Islam Asia Tenggara sesungguhnya adalah fenomena lokal yang terputus-putus dan otonom satu sama lain. Bahkan bisa dikatakan bahwa tidak ada ikatan kultural dan politik antar kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara yang berkembang dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda atau yang bersamaan sekalipun. Justru ikatan Islam lokal dengan pusat Islam di Timur Tengah (Mekah) lebih “dekat” daripada antar-lokal (regional) di kawasan Asia Tenggara sendiri. Akibatnya amat sulit untuk melacak garis perkembangan Islam secara regional Asia Tenggara. (hal. 14).

 

Berikut daftar isi buku ini:

Kata pengantar

Sambutan Keluarga Mestika Zed  

Pengantar: Mestika Zed dan “Warisan” Keilmuan Prof. Ganefri, Ph.D (Rektor UNP)

Pengantar: Perkenalan Dengan Mestika Zed Hingga Buku Ini

Daftar Isi

          

BAGIAN VIII:  KAJIAN SEJARAH DUNIA

  1. Kajian Sejarah Islam Asia Tenggara: Beberapa Masalah Teoritis-Metodologis
  2. Nobel Untuk Sejarah Beberapa Catatan tentang Karya R.W. Fogel dan Douglass C. North, Pemenang Nobel Sejarah 1993
  3. Paradoks Peradaban Renungan setelah 50 Tahun      Deklarasi Universal HAM PBB

 

BAGIAN IX: KAJIAN SEJARAH LAIN-LAIN

  1. The Road Not Taken Or The Missing Chances? Pemetaan Kembali Krisis Milenium dalam Perspektif Sejarah
  2. Hidden History Sejarah Kebrutalan dan Kejahatan Negara Melawan Kemanusiaan Isu-Isu dan Strategi dalam Konteks Sejarah Indonesia
  3. Pers dan Sejarah Publik
  4. Kontroversi Sejarah
  5. Mazhab Annales Setelah Braudel
  6. Clio dan The New History Humaniora dalam Wacana Teori dan Metodologi Sejarah

 

BAGIAN X : PENGAJARAN SEJARAH

  1. Metode Pengajaran Sejarah di Sekolah Dewasa ini, Peluang dan Tantangan
  2. Pembelajaran Sejarah Lokal Sumatera Barat
  3. Profesionalisme Guru Yang Terbelenggu di Tengah Timbunan Persoalan Bangsa
  4. Isu-Isu Kritis dan Startegis dalam Pengajaran Sejarah di Sekolah Menengah Dewasa Ini: Sebuah Pemetaan Pendahuluan
  5. Pendidikan Keguruan dan Krisis Profesi Guru Dewasa Ini, Suatu Sumbangan Pemikiran Berdasarkan Telaahan Sejarah Pendidikan di Sumatera Barat

 

BAGIAN XI : KAJIAN SOSIAL

  1. Genealogi  Ilmu-Ilmu Sosial di Indonesia Kecenderungan Bertahannya Gejala Parokialitas Antardisiplin
  2. Ilmu-ilmu Sosial dan Masalah Pembangunan
  3. Indonesia Memerlukan Suatu Strategi Kebudayaan Nasional
  4. Ingatan Kolektif Lokal dan Keprihatinan Nasional
  5. Mendambakan Ilmu-Ilmu Sosial Berwawasan Histrokal
  6. Iptek dan Transformasi Sosial Budaya
  7. Kekerasan, Teror dan Perubahan Sosial  Kajian Historis tentang Terorisme di Indonesia (Dari Pasca Indonesia Merdeka sampai Era Refromasi)
  8. Kondisi Kebangsaan Kita Hari Ini: Sebuah Dilema dan Tantangan  Bagi Ganerasi Paska-Reformasi

9.   Konflik Sosial dan Masalah Disintegrasi Bangsa Pemetaan Kembali Krisis Milineum dalam Perspektif Sejarah

Foto-Foto Bersama Mestika Zed

Lampiran 1:

Daftar Isi Jilid 1 Sampai Jilid 5

Lampiran 2:

Lima Jilid Buku Kumpulan Tulisan Sejarawan UNP

Prof. Mestika Zed Diterbitkan

Biodata Penulis

Biodata Editor

(R/*).

 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.