Judul buku: Trilogi Kaba Krisis Jati Diri Urang Minangkabau
Penulis : Rafendi Sanjaya
Editor : Armaidi Tanjung
Penerbit
: Pustaka Artaz
|
Cetakan I Halaman : |
Januari 2026 vi + 308 |
|
ISBN : |
978-634-7390-00-0 |
FILOSOFI
kehidupan urang Minangkabau konon
sejak dahulunya (sebelum adanya NKRI) umumnya berdasarkan kepada “adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah“ (ABS-SBK),
dan “syarak mangato adaik mamakai”
(SMAM).
Hal itu
berarti bahwa hidup dan kehidupan urang
Minangkabau mengacu kepada nilai-nilai adat Timur yang santun dan agama
berketuhanan yang Tauhid yang dibuktikan dengan lelaki (sebagai makhluk yang
kuat) jadi pelindung, dan pemimpin bagi wanita (sebagai makhluk yang lemah).
Kata
lainnya, itulah jati diri urang
Minangkabau. Datangnya modernisasi, globalisasi dan liberalisasi, pada umumnya
mempengaruhi sikap dan perilaku sosial dan politik umbuik mudo (generasi muda) NKRI terutama yang bermukim di
kota-kota metropolis.
Hal itu
juga terjadi di ranah Minangkabau. Ibarat mamangan adat “sakali aie gadang/sakali
tapian baubah” mengakibatkan urang
Minangkabau mengalami krisis jati diri.
Sebagai
buktinya adalah adanya pemberian uang
hilang dalam adat nikah-kawin khususnya di Piaman Laweh (Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman) atau
kawasan rantaunya Minangkabau, serta dalam pesta demokrasi Pemilihan Wali
Nagari (Pilwana) dimenangi perempuan.
Ini
berarti “ayam jantan (lelaki) keok dilapua
ayam betina (perempuan)”. Dengan demikian, perempuan jadi imamnya (pemimpin),
sedang lelakinya jadi makmumnya. Dengan demikian, kepemimpinan di Minangkabau
bukan lagi berdasarkan kepada ABS-SBK dan SMAM.
Ketiga
Kaba (novel) ini terinspirasi dari fenomena yang terjadi di tengah kehidupan urang Minangkabau di nagari
(nama lain dari desa),
daerah sekaligus pemerintahan terendah di NKRI.
Tiga kisah yang menarik untuk dibaca yang menggambarkan
kondisi kekinian di nagari Sumatera Barat. Semoga para pembaca bisa mengambil pesan dan hikmahnya
dari buku sederhana ini.
