Breaking Posts

6/trending/recent
Type Here to Get Search Results !

Orang Minang Meliput Muktamar NU


 

Judul Buku: Orang Minang Meliput Muktamar NU  

Penulis                 : Armaidi Tanjung, S.Sos., M.A

Pengantar        :  Achmad Mukafi Ni’am (Pemred NU Online 2015–2021)

Penerbit               : Pustaka Artaz   

Anggota IKAPI   :  038/SB/2023

Cetakan I             :   April 2026   

Halaman              :  xiv + 172

ISBN                   : : 978-634-7390-00-0

Harga                   : Rp  

Data dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2023 menyebutkan 56,9% responden Muslim Indonesia mengaku sebagai warga NU, naik dari 27,5% pada tahun 2005. Sebuah survei lain yang dirilis pada tahun 2022 menunjukkan 59,2% dari seluruh penduduk Muslim di Indonesia mengaku sebagai warga NU, berdasarkan data yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. NU dicitrakan oleh mayoritas responden survey tersebut mengaitkan NU dengan nilai-nilai seperti "toleransi, baik, dan moderat".

Sebagai organisasi besar, saat berlangsung perhelatan lima tahunan, Muktamar, maka yang terlibat, melibatkan diri dan dilibatkan tidak hanya orang NU, tapi juga orang di luar NU yang tidak terhitung jumlahnya, mereka mendapatkan berkah dari Muktamar NU.

Begitu pula liputan pemberitaan dari media massa, baik media cetak, media online, media elektronik, media daring, menjadikan momen Muktamar NU sebagai sumber pemberitaan. Para kuli tinta, kuli disket, jurnalis, dan pewarta, menulis beragam informasi dari peristiwa, narasumber maupun dokumen lainnya yang terkait dengan NU dan Muktamar NU tersebut.

Buku ini menjadi catatan perjalanan liputan Muktamar NU dari seorang jurnalis Minang. Sekelumit dinamika penyelenggaraan Muktamar NU menjelang satu abad NU, dapat dibaca sehingga menambah khazanah literatur NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia.

Penulisnya tak hanya menulis tentang kampung halamannya, tetapi juga mencatat peristiwa lain. Salah satu ciri khasnya adalah membangun narasi kecil dalam peristiwa besar.

Kisah ini bercerita tentang mahalnya sebuah keyakinan dan bagaimana NU dapat menjadi payung yang memberi perlindungan spiritual bagi mereka yang berada di daerah minoritas Muslim. Kisah heroik seperti itu nyaris tak tersentuh oleh media arus utama, namun berhasil ditulis Bang Armaidi dan menyentuh hati ribuan pembaca NU Online.

Buku ini setidaknya memuat tiga hal penting. Pertama, merekam dinamika Muktamar ke-32 di Makassar dan ke-33 di Jombang dari sudut pandang seorang jurnalis Minang yang mewarisi tradisi intelektual sekaligus ketakdziman kepada kiai.

Kedua, menunjukkan bukti bahwa kontributor memiliki peran vital dalam menyebarkan informasi dan membangun citra positif tentang NU, terutama dari daerah.

Ketiga, mengabadikan kisah-kisah kecil yang luput dari catatan sejarah resmi. Catatan-catatan itulah yang justru menjadi roh dan semangat perjalanan organisasi besar.

Buku ini menunjukkan bahwa muktamar bukan hanya milik pengurus yang bersidang, tetapi juga milik warga NU yang datang dari pelosok Sulawesi, yang rela tidur di selasar masjid demi rasa cintanya pada organisasi ini. Ia tak hanya fokus pada agenda besar, tetapi juga merekam denyut nadi kecil yang justru membuat liputannya terasa hidup dan manusiawi.

Dalam liputan Muktamar Jombang, ketika wartawan lain sibuk meliput dinamika pemilihan umum, Penulis buku ini justru menulis liputan human interest yang sangat menyentuh. Ia bertemu dengan Adam Yablow (42), seorang katib syuriyah asli Papua dari PCNU Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, yang mengisahkan perjuangannya menjadi mualaf. Ia dipukul hingga empat kali. Tubuhnya diputar dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas oleh aparat yang berbeda keyakinan. Selama satu bulan lamanya Adam wajib melaporkan diri ke kantor aparat keamanan untuk dimintai keterangan mengapa ia masuk Islam.

Kisah ini bercerita tentang mahalnya sebuah keyakinan dan bagaimana NU dapat menjadi payung yang memberi perlindungan spiritual bagi mereka yang berada di daerah minoritas Muslim. Kisah heroik seperti itu nyaris tak tersentuh oleh media arus utama, namun berhasil ditulis dan menyentuh hati ribuan pembaca NU Online.

Liputan yang lain tentang Rosmawati (52), aktivis Muslimat NU dari Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, juga sangat menggetarkan. Demi kecintaannya kepada NU, ia rela menempuh perjalanan darat 13 jam dari Murung Raya ke Banjarmasin, kemudian dilanjutkan penerbangan ke Surabaya, dan diteruskan lagi dengan perjalanan darat ke Jombang. Perjalanan panjang itu membuatnya jatuh sakit dan harus diinfus karena kelelahan. “Kami datang ke Muktamar ini bersama 20 orang khusus untuk meramaikan dan menyukseskan Muktamar.”

Narasi-narasi kecil seperti inilah yang membuat tulisannya hidup dan dekat, sekaligus menjadi bagian penting dari muktamar yang menunjukkan kecintaannya kepada NU. Ia tak sekadar melaporkan fakta dalam angka dan agenda sidang, tetapi menghadirkan sisi kemanusiaan.

 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.