Judul buku: ENSIKLOPEDIA 100 SYEKH DAN TUANKU, Bersanad Pada Syekh Burhanuddin
Penulis : Duski
Samad, Armaidi Tanjung, Ahmad Damanhuri
Anggota : Abdurrahman
Ahady - Ampera Salim
Pati Marajo - Fatmi
Fauzani Duski – Firdaus
- Marfiyanti - Neni Triana –
Nurasiah Ahmad - Ridwan Arif
Yunaidi - Roni Faslah –
Syahrul Mubarak - Syahminal
Penerbit : Pustaka Artaz
Kerja Sama Yayasan Islamic Center
Syekh Burhanuddin Pariaman
Cetakan
I : Agustus 2026
Halaman : xiv + 784
ISBN : 978-000-0000-00-0
Harga : Rp
Sejarah Islam di Minangkabau tidak
dapat dipisahkan dari sosok besar Syekh Burhanuddin Ulakan, seorang ulama,
pendidik, mubalig, dan mursyid tarekat yang menjadi tonggak utama penyebaran
Islam serta peletak dasar sistem pendidikan surau di ranah Minang. Melalui
tangan beliau, Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran ritual keagamaan, tetapi
berkembang menjadi kekuatan peradaban yang membentuk sistem nilai, budaya,
pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.
Dalam
lintasan sejarah pendidikan Islam Nusantara, Syekh Burhanuddin Ulakan menempati
posisi yang sangat strategis. Setelah menimba ilmu kepada ulama besar
Nusantara, Syekh Abdurrauf al-Singkili di Aceh, beliau kembali ke Ulakan
Pariaman dan mendirikan surau sebagai pusat pendidikan, dakwah, pengkaderan
ulama, dan pembinaan masyarakat. Surau yang beliau bangun kemudian berkembang
menjadi model pendidikan Islam khas Minangkabau yang melahirkan ribuan ulama
dan menyebarkan jaringan keilmuan ke seluruh pelosok Sumatera Barat bahkan
hingga ke wilayah Nusantara lainnya.
Pendidikan
yang dikembangkan Syekh Burhanuddin menggunakan sistem halaqah, yaitu metode
pembelajaran yang menempatkan guru dan murid dalam hubungan keilmuan yang
dekat, intensif, dan berkelanjutan. Kurikulum yang diajarkan mencakup ilmu
tauhid, fikih, tasawuf, tafsir, hadis, serta pembinaan akhlak dan
spiritualitas. Melalui sistem ini lahir generasi ulama yang tidak hanya
menguasai ilmu agama, tetapi juga menjadi pemimpin masyarakat dan penjaga
nilai-nilai adat yang berlandaskan syariat Islam.
Salah
satu warisan terbesar Syekh Burhanuddin adalah keberhasilannya mengintegrasikan
ajaran Islam dengan budaya lokal Minangkabau. Integrasi tersebut kemudian
berkembang menjadi falsafah besar yang dikenal dengan ungkapan: "Adat
Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah." Falsafah ini menjadi
fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau hingga hari ini dan menjadikan Islam
sebagai ruh kebudayaan sekaligus pedoman dalam kehidupan sosial, pendidikan,
hukum adat, dan kepemimpinan.
Buku Ensiklopedia
100 Syekh Dan Tuanku, Bersanad Pada
Syekh Burhanuddin, ini lahir dari kegelisahan sekaligus tanggung jawab intelektual—bahwa
sejarah ulama, khususnya para Tuanku pewaris sanad keilmuan, tidak boleh
tercecer dalam ingatan yang rapuh atau sekadar hidup dalam tradisi lisan yang
rentan hilang ditelan zaman. Padahal, di balik nama-nama itu, tersimpan
kekuatan besar: kekuatan ilmu, kekuatan akhlak, dan kekuatan peradaban.
Minangkabau memiliki kekhasan yang tidak dimiliki
banyak daerah lain: tradisi keulamaan yang hidup dalam sistem sosial dan
budaya. Surau bukan sekadar tempat ibadah, tetapi pusat pendidikan, kaderisasi,
dan transformasi nilai. Tuanku bukan sekadar gelar, tetapi simbol otoritas
keilmuan yang bersanad, yang menghubungkan generasi ke generasi dalam mata
rantai ilmu yang otentik.
Dalam konteks itulah, buku ini menghadirkan profil
para Syekh dan Tuanku secara alfabetis—sebuah upaya dokumentasi biografis yang
diharapkan menjadi rujukan awal bagi generasi kini dan mendatang.
Lebih dari sekadar kumpulan data, buku ini ingin
menegaskan satu hal penting: bahwa peradaban tidak lahir dari kekosongan,
tetapi dari kesinambungan sanad—sanad ilmu, sanad akhlak, dan sanad perjuangan.
Syekh Burhanuddin Ulakan bukan hanya tokoh sejarah, tetapi simpul peradaban
yang melahirkan jaringan ulama yang luas, dari pesisir hingga darek, dari surau
kecil hingga pusat-pusat pendidikan Islam.
Dalam kajian sosiologis dan kultural, warisan ini
juga melahirkan falsafah besar Minangkabau: Adat Basandi Syarak, Syarak
Basandi Kitabullah. Falsafah ini bukan sekadar slogan, tetapi hasil dari
proses dialektika panjang antara Islam dan adat, yang menjadikan agama tidak
tercerabut dari realitas sosial, dan adat tidak kehilangan arah nilai.
Ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan
kepada Bupati Padang Pariaman Bapak John Kenedy Azis, yang telah memberikan
dukungan dan sambutan terhadap penerbitan buku ini. Dukungan tersebut menjadi
bagian penting dalam menguatkan akar pengembangan keislaman, kebudayaan, dan
peradaban Islam di Sumatera Barat, khususnya di daerah Kabupaten Padang
Pariaman, yang dalam adigium adat disebut Syarak Mandaki, Adat Manurun.
Ensiklopedia
100 Syekh Dan Tuanku, Bersanad Pada
Syekh Burhanuddin ini adalah sebuah fondasi yang dapat terus
dikembangkan, disempurnakan, dan diperkaya oleh para peneliti, akademisi, dan
generasi penerus.
